Bangunan mesjid dibakar warga di Sintang, Kalimantan Barat.

Massa Rusak dan Bakar Mesjid Milik Jemaah Ahmadiyah di Sintang Kalbar

maraden | Daerah | 06-09-2021

PARBOABOA, Sintang – Sebuah mesjid di Sintang, Kalimantan Barat, dibakar oleh ratusan warga yang mengaku tergabung dalam gerakan Aliansi Umat Islam di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Sejumlah massa mendatangi jemaah Ahmadiyah di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), Jumat (3/9/2021) siang. Dalam peristiwa tersebut, bangunan masjid mengalami kerusakan karena dilempar dan bangunan belakang masjid dibakar massa.

Akibatnya, 72 jiwa atau 20 kepala keluarga terpaksa dievakuasi oleh aparat keamanan gabungan. Polisi memastikan tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Sekretaris Pers dan Juru Bicara Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana mengatakan, pembakaran dan perusakan masjid dilakukan oleh kurang lebih 130 orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Aliansi Umat Islam. Mereka membakar masjid denbgan cara melemparinya dengan bom molotov yang tebuat dari botol plastik yang diisi bensin,

“Massa mengambil botol-botol plastik berisi bensin yang sudah disiapkan di parit di kebun karet. Beberapa botol bensin diamankan oleh polisi,” kata Yendra melalui keterangan tertulis, Sabtu (4/9).

Sebelum kejadian ini, terjadi aksi penolakan terhadap Ahmadiyah yang telah berada di Kabupaten Sintang sejak 2004 lalu sudah berlangsung sejak lama.

Sebelum pembakaran, fitnah terhadap Ahmadiyah juga terus digaungkan, mereka menyebut pembangunan masjid Ahmadiyah dananya dari luar negeri, membuat perceraian dan fitnah keji lainnya. Merekea juga menyebut-nyebut Ahmadiyah radikal dan berbahaya.

“Mereka memporak-porandakkan bagian dalam masjid, memecahkan semua jendela masjid, merusak dinding bangunan masjid dan bangunan di samping masjid, memecahkan toren air,” kata Yendra.

Saat api berkobar massa menyampaikan ancaman bahwa jika dalam 30 hari, masjid tidak diratakan oleh pemerintah, maka mereka akan kembali lagi untuk meratakan bangunan masjid Miftahul Huda.

Yendra menyebut sebelum perusakan masjid dilakukan, terdapat sejumlah pertemuan antara warga dengan Forkopimda dan perwakilan masyarakat yang membahas solusi terkait Ahmadiyah.

Namun sepertinya pertemuan tersebut tidak membuahkan kespakatn hingga kemudian peristiwa pembakaran itu pun terjadi.

Tag : #kriminal   

Baca Juga