Baru Rayakan Ulang Tahun, Bitcoin Malah Anjlok Hari Ini

Ilustrasi Bitcoin

PARBOABOA - Baru berulang tahun ke-13 pada 3 Januari 2022 rupanya tidak menjadi awal yang baik bagi Bitcoin. Pasalnya, harga mata uang kripto (cryptocurrency) tersebut anjlok ke angka terendah selama satu bulan terakhir.

Berdasarkan data CoinDesk, harga Bitcoin per Kamis (6/1/2022) sekitar pukul 06.00 WIB terpantau berada di angka USD 43.400 (sekitar Rp 625 juta) per keping, terendah selama satu bulan terakhir, atau sejak awal Desember 2021 lalu.

Sebelumnya, harga Bitcoin juga sempat mencapai titik yang rendah selama periode tersebut tepatnya pada 18 Desember 2021. Kala itu, harga Bitcoin terpantau berada di angka USD 45.600 (sekitar Rp 656 juta) per keping.

Anjloknya bitcoin diikuti aset kripto lain seperti Ethereum, Binance Coin, Dogecoin, Shiba Inu yang kembali dalam tren melemah pada awal tahun 2022.

Semakin menambah kurang menggembirakan, penertiban penambangan bitcoin ilegal makin gencar dilakukan.

Analis Aset Digital di Fundstrat Sean Farrell dan Will McEvoy dalam laporannya menjelaskan pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek akan cenderung volatil dan berisiko untuk investor.

Meski demikian, mereka mengatakan investor dapat membeli Bitcoin untuk jangka panjang melalui strategi derivatif.

“Dengan kondisi makro saat ini, pengaruh dalam pasar Bitcoin, dan ketahanan aset-aset kripto alternatif, kami merekomendasikan overweight untuk Ethereum dan kontrak aset lainnya,” demikian kutipan laporan tersebut.

Dikutip dari Bisnis.com, fluktuasi pada aset kripto belakangan ini terjadi ditengah periode fluktuatif di pasar keuangan. Kenaikan inflasi memaksa bank sentral di berbagai negara untuk memperketat kebijakan moneter yang mengancam tingkat likuiditas beragam aset.

Sementara itu, Stephane Ouellette, CEO dan Pendiri platform kripto FRNT Financial Inc mengatakan kebijakan The Fed saat ini mengindikasikan nada hawkish. Menurutnya, respon pasar kripto terhadap sentimen ini cenderung reaktif ditengah beragam katalis lain seperti inflasi, nilai penyimpanan, dan lainnya.

Berdasaekan data CoinDesk, Kamis (6/1/2022), penurunan ini juga dipicu oleh langkah bank sentral di AS, Federal Reserve Bank, yang berencana melakukan penyusutan (shrinking) pada neraca keuangan mereka.

Neraca keuangan bank sentral AS tersebut membengkak ke angka USD 8,3 triliun atau sekitar Rp 119.515 triliun. Proses shrinking sendiri biasanya merupakan langkah penjualan aset yang dimiliki untuk pembayaran utang yang ada.

Selain itu, para investor juga khawatir pencetakan uang oleh Federal Reserve Bank hingga lebih dari USD 4 triliun (sekitar Rp 57.592 triliun) akan memicu kenaikan angka inflasi. Sehingga, sentimen buruk ini disebut berpengaruh juga pada harga Bitcoin.

Belum diketahui apakah harga Bitcoin bakal kembali naik lagi atau tidak. Namun, mengingat harga mata uang kripto ini cukup rentan, maka kemungkinan harganya naik atau turun bisa jadi berada di 50:50.

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS