Biaya hidup di Swiss (Dok: Dream.co.id)

Alasan Mengapa Hidup di Swiss Mahal

Juni | Internasional | 13-05-2022

PARBOABOA, Pematangsiantar - Swiss terkenal sebagai salah satu negara dengan kualitas hidup yang baik. Namun sayangnya, biaya hidup di Swiss juga sangat mahal. Bahkan, tahun ini negara tersebut dijuluki sebagai negara dengan biaya hidup termahal.

Menduduki posisi pertama dari 132 negara yang terdapat di seluruh dunia, Swiss disebut menjadi negara dengan biaya hidup paling mahal di dunia.

Jika di Indonesia dengan Upah Minimum Rata-Rata (UMR) tidak sampai Rp. 5 juta per bulan, mungkin kamu berpikir bahwa gaji Rp. 85 juta per bulannya sangat besar.

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi penduduk Swiss. Mayoritas penduduk di negara tersebut mendapatkan gaji sebesar Rp. 85 juta, namun mereka masih harus hidup pas-pasan. Mengapa demikian? Berikut dijelaskan tentang kehidupan di Swiss, simak ulasannya.

1. Gaji karyawan sangat tinggi, tapi biaya hidup di Swiss mahal

Di Indonesia, para freshgraduate tentu dibayar dengan nilai yang tak seberapa karena belum memiliki pengalaman yang mencukupi. Peningkatan gaji kemudian akan diberikan seiring berjalannya waktu dan sesuai dengan prestasi.

Akan tetapi, gaji di Swiss setidaknya mencapai 6.000 Swiss Franc perbulannya, atau sekitar 84 juta rupiah. Dunia kerja di negara tersebut berani membayar begitu mahal pada karyawan yang baru saja lulus menjadi sarjana.

Nilai gaji di Swiss yang nyaris 100 juta tentu dirasa sangat banyak jika digunakan untuk hidup di Indonesia. Tapi, biaya tersebut akan terasa sangat pas-pasan jika digunakan di Swiss. Terlebih lagi jika karyawan tersebut sudah punya anak dan istri. Gaji tersebut bahkan membuat mereka hidup kekurangan.

Hal tersebut dikarenakan biaya hidup di Swiss yang luar biasa mahalnya. Harga rumah di pedesaan Swiss jika disewa, masyarakat harus membayar sekitar 2.000 Swiss Franc perbulan, atau setara dengan 28 juta rupiah.

Tak hanya itu, masyarakat memiliki kewajiban membayar asuransi, pensiun, hingga mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti makan hingga transport yang tak kalah mahalnya.

2. Semua masyarakat Swiss mendapat tunjangan hari tua

Produktivitas di negara Swiss memang dipicu oleh gaji. Semakin tinggi gaji di Swiss, maka pensiun yang didapat juga semakin besar. Tidak ada perbedaan antara PNS maupun petani, semua akan mendapatkan tunjangan hari tua yang diambil dari pajak bernama Alters-und Hinderlanssenversicherung (AHV).

 Besarnya dipatok sekitar 2.500 Swiss Franc atau kisaran 35 juta rupiah setiap bulan. Untuk mereka yang memiliki gaji di Swiss, dana pensiunan dari pemerintah tentunya di atas AHV.

3. Pendidikan hingga S3 Gratis

Besarnya biaya hidup di Swiss memang membuat melongo, tapi masih cukup nyaman bagi para orangtua sebab mereka tak harus memikirkan biaya pendidikan untuk anak-anak mereka. Berbeda dengan di Indonesia, dimana terdapat banyak anak yang putus sekolah karena kurangnya biaya.

Pemerintah Swiss sangat menjamin pendidikan bagi masyarakatnya. Bahkan, jika ada yang berniat berkali-kali mendapatkan gelar doktor, tetap akan dibebaskan dari biaya kuliah di Swiss.

Biaya hidup di Swiss yang luar biasa mahal tentu akan menyebabkan masyarakat di negara tersebut sangat sulit untuk menabung, bahkan, sangat jarang bisa kaya raya. Walaupun demikian, penduduk disana bisa dikatakan sangat sejahtera. Mengapa?

Karena negara, swasta, dan individu bekerja sama membangun kesejahteraan dengan hidup sederhana. Biaya hidup di Swiss yang serba mahal membuat masing-masing warga terbiasa hidup sederhana demi mengutamakan masa depan.

Itulah dia sekilas tentang kehidupan dan biaya hidup di Swiss. Meski mahal, tapi setidaknya masih sangat sesuai dengan fasilitas yang diberikan oleh Pemerintah.

Tag : #dunia    #swiss    #internasional    #gaya hidup    #sejahtera   

Baca Juga