Ritual Memberi Makan Hantu Etnis Tionghoa Medan di Hungry Ghost Festival

Etnis Tionghoa di Kota Medan mengadakan ritual memberi makan hantu atau jamuan makan kepada para arwah dalam acara Hungry Ghost Festival di Vihara Gunung Timur, Kecamatan Polonia, Sumatra Utara. ( Foto: PARBOABOA/Ilhma Pradilla)

PARBOABOA, Medan - Etnis Tionghoa di Kota Medan, Sumatra Utara mengadakan ritual memberi makan hantu atau memberikan jamuan kepada para arwah saat Hungry Ghost Festival yang berlangsung di Vihara Gunung Timur, Rabu (30/8/2023) kemarin.

Menurut Pengurus Vihara Gunung Timur, Eddy Salin, hungry ghost merupakan Festival tahunan keagamaan yang digelar etnis Tionghoa di Kota Medan ini bertujuan, agar hantu-hantu yang keluar dari neraka dan sedang kelaparan tidak mengganggu masyarakat yang ada di bumi.

"Itu pintu neraka terbuka dan roh dibebaskan. Memberikan mereka makanan, minuman sehingga arwah tidak kelaparan dan tidak mengganggu yang masih hidup," jelasnya.

Eddy Salin mengatakan, bulan hantu tersebut dipercaya masyarakat Tionghoa terjadi pada tanggal 16 Agustus-14 September 2023 dan puncak hantu-hantu itu mulai kelaparan pada tanggal 30 Agustus 2023.

Festival ini dipercaya oleh etnis Tionghoa muncul setiap tahun.

"Tepatnya bulan ke 7 hari ke 15 berdasarkan tahun lunar," katanya.

Eddy menjelaskan, kegiatan keagamaan ini sudah berlangsung puluhan tahun di kalangan masyarakat Tionghoa yang ada di kota Medan.

"Kegiatan sudah rutin diselenggarakan, sejak vihara ini diresmikan tahun 1965," ujarnya.

Ritual memberi makan hantu dalam acara Hungry Ghost Festival di Vihara Gunung Timur, Kota Medan. (Foto: PARBOABOA/Ilham Pradilla) 

Dalam festival ini, Vihara mempersembahkan makanan dan minuman atau anggur sebagai persembahan. Tahun ini, vihara menyediakan 2.000 paket makanan untuk para arwah.

Selain paket makanan, juga terlihat bangunan seperti rumah dan apartemen dari kertas, yang dipercaya menjadi tempat tinggal arwah leluhur.

"Itu sebabnya ada berupa rumah apartemen dan lainnya, kita bakar yang nantinya akan menjadi tempat hunian para arwah tersebut," ungkap Eddy Salin.

Tak hanya tempat tinggal, vihara juga membuat transportasi buatan yang diibaratkan menjadi kendaraan spiritual arwah yang berada di luar pulau Sumatra.

"Jadi kalau ada leluhurnya di luar pulau, bisa menggunakan kapal ini, juga ada mobil," kata Eddy.

Selain itu, lanjut Eddy, vihara juga memberikan kertas yang dipercaya sebagai uang spiritual bagi arwah untuk bekal mereka di akhirat. Pembakaran uang kertas ini merupakan kegiatan wajib saat bulan hantu tiba.

"Jadi ini bukan kertas biasa, disimbolkan sebagai uang yang diberikan kepada para arwah," sebutnya.

Sementara itu, salah seorang etnis Tionghoa yang ikut melakukan ritual memberi makan hantu saat Hungry Ghost festival, JS mengatakan, festival ini merupakan kegiatan keagamaan tahunan, dipersembahkan untuk arwah.

Menurutnya, festival ini menjadi salah satu Simbolis leluhur maupun arwah yang telah kehilangan keluarganya di bumi.

"Jadi, ada leluhur atau arwah yang sudah kehilangan keluarganya dan tidak ada yang sembahyangi. Jadi ini adalah simbolis untuk para leluhur," katanya.

Pengunjung lain, Koko mengatakan, kedatangannya ke Hungry Ghost Festival ini sebagai bentuk menghargai dan membalas budi kepada leluhur yang telah menjadi arwah di alam gaib.

"Sebagai bentuk balas budi kita kepada leluhur arwah yang sudah lebih dahulu meninggal," pungkasnya.

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS